fbpx

Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Aktivitas Sehari-hari

Menurut Depkes RI (2009), kategori usia anak dibedakan menjadi 2, yaitu masa balita (0-5 tahun) dan masa kanak-kanak (5-11 tahun). Sebenarnya ada 7 kelompok umur lainnya, seperti remaja awal dan akhir, dewasa awal dan akhir, lansia awal dan akhir, hingga manula. Namun tulisan ini akan berfokus pada kelompok anak di usia dini.

kreativitas anak tumbuh sejak masih anak-anak
kreativitas anak perlu dikembangkan sejak masih kanak kanak

Berdasarkan pasal 28 UU Sisdiknas No.23/2003 ayat 1, usia dini adalah anak-anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun. Kelompok usia ini penting untuk diperhatikan, mengingat piramida penduduk Indonesi adalah segitiga tegak. Artinya, komposisi usia anak-anak dan produktif lebih banyak dibandingkan usia non-produktif.

Mengutip angka dari grafik “Jumlah Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin (2019)” dalam databoks.katadata.co.id, jumlah balita Indonesia sebanyak 21.974.300 jiwa, serta usia anak-anak 5-9 tahun 21.998.800 jiwa. Sedangkan bentuk grafik yang mengecil ke atas menandakan semakin sedikitnya golongan usia dewasa dan lansia.

Dengan begitu, jelas sudah keberlangsungan bangsa ini ada pada generasi mudanya. Di era globalisasi, setiap anak dituntut untuk bersaing satu sama lain. Maka, penting bagi setiap orangtua, pendidik, dan masyarakat umum mendorong kreativitas anak-anak Indonesia di usia dini.

Pengertian Kreativitas

Kreativitas adalah sebuah proses. Proses kreatif akan selalu dinilai sebagai hal yang merepotkan, merusak, dan mengganggu. Penting bagi orangtua untuk memahami proses kreatif anak.[1] Hal ini terus berlangsung sejak anak dalam kandungan hingga dewasa. Namun masa optimalnya sampai menginjak usia tiga tahun.

Ada berbagai pendapat peneliti mengenai kreativitas. Intinya, elemen-elemen yang tergolong dalam kreativitas anak adalah:[2]

  • Imajinasi
  • Keaslian (kemampuan untuk mengutarakan ide serta menciptakan sesuatu yang baru dan tidak biasa)
  • Produktivitas (kemampuan untuk menyimpulkan berbagai ide melalui sudut pandang berbeda)
  • Penyelesaian masalah (bisa mengaplikasikan pengetahuan dan imajinasi di situasi tertentu)
  • Menghasilkan sesuatu yang bernilai dan bermanfaat

Kreativitas dan Perkembangan Anak

Beberapa orang mengkaitkan kreativitas dengan perkembangan anak, biasanya secara kognitif. Apakah benar anak yang IQ-nya tinggi berarti anak yang kreatif? Belum tentu. Itu adalah cara konvensional untuk menilai kreativitas anak. Seiring dengan perkembangan penelitian di bidang anak-anak usia dini, kreativitas kini dianggap sebagai suatu kemampuan anak di bidang dan situasi tertentu.

Dalam setiap tahapan, anak usia dini memiliki fokus kreativitas yang berbeda. Menurut Piaget (Suyanto, 2003: 56-72), anak usia 0-2 tahun sedang dalam tahapan sensori motorik, yaitu kemampuan koordinasi gerakan dan tindakan fisik. Mereka senang bereksplorasi dengan indranya, membuat analisis sederhana kondisi lingkungan sekitar, hingga memahami perintah-perintah yang bersifat konkrit dan sederhana.

Barulah masuk ke usia 2-7 tahun anak-anak mengembangkan kemampuan bahasanya, pola pikir, koordinasi lebih kompleks dalam motoriknya, serta bersikap kritis (banyak bertanya). Dalam kedua tahap tersebut, khususnya saat usia 0-2 tahun, berbagai stimulasi dibutuhkan untuk perkembangan kreativitas mereka.

Kegiatan Sehari-hari yang Untuk Pengembangan Kreatifitas

Saat ini memang sudah ada Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diperuntukkan anak usia 3-4 tahun. Walau begitu, beberapa masyarakat ada yang enggan memasukkan anaknya ke sekolah di bawah usia taman kanak-kanak (TK). Sebenarnya hal ini tidak menjadi masalah, karena yang terpenting adalah aktivitasnya untuk merangsang kreativitas si anak. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan sehari-hari:

1. Bermain

Usia dini memang usia bermain. Si anak bisa dikenalkan dengan teman-teman sebayanya. Dengan membiarkan mereka berinteraksi, si anak mulai memahami aturan-aturan sosial sederhana dan cara berkomunikasi. Dari sini, mereka akan tahu apa yang boleh dan tidak di masyarakat nantinya.

Selain itu, kreativitas anak usia dini pun bisa dirangsang melalui mainan. Seperti halnya dalam penelitian Ade Holis (2016), ia bereksperimen dengan mainan balok kayu terhadap murid sekolah PAUD di Garut. Hasilnya adalah nilai rata-rata kreativitas kelas bertambah menjadi 46,33 dari sebelumnya 30,57 saat tanpa adanya perlakuan.[3]

2. Berimajinasi

Cara sederhana untuk membangun imajinasi anak adalah dengan membaca buku. Bisa dimulai dari sekedar melihat gambar, menirukan suara sesuai karakter, atau membaca setiap kata bersama-sama. Biasanya hal ini dilakukan saat menjelang tidur. Sejak jaman dulu anak-anak suka didongengi sebelum mereka beristirahat.

Si anak akan berimajinasi tentang tokoh dan kondisi dalam cerita. Biarkan mereka juga menebak-nebak akhir cerita. Melalui cara ini, tak hanya kemampuan bahasa anak yang berkembang, tetapi juga kemampuan prediksinya terhadap situasi mendatang.

3. Izinkan Untuk Mengutarakan Maksud

Dalam dunia imajinasi anak tidak ada yang salah. Kalau deskripsi mereka berbeda dengan orang dewasa, hal ini dikarenakan referensinya yang masih minim. Bisa juga mereka memiliki tujuan lain yang tidak dimengerti oleh orang dewasa. Izinkan mereka untuk menjelaskan maksudnya. Hal ini mendorong keberanian dan kepercayaandirinya.

Sesuai dengan pernyataan Yusuf (2011:56) bahwa salah satu upaya memfasiliasi perkembangan kreativitas anak adalah keterbukaan daya pikir/cipta untuk mengembangkan imajinasinya.[4] Jika sebagai orangtua, pendidik, atau pendamping menyalahkan maksud-maksud si anak, maka kemungkinan ia akan berhenti berimajinasi. Mereka takut akan menjadi salah.

4. Ikuti Minat Si Anak

Seringnya orang dewasa menganggap apa yang diberikannya adalah terbaik baik anak-anak. Padahal belum tentu. Sebagai jiwa yang terlahir bebas, anak-anak pun berhak untuk menentukan kesukaannya. Justru seharusnya saat mereka memiliki minat tertentu segera diarahkan kepada hal-hal positif.

Sebagai conton, jika anak suka memukul apapun dihadapannya, bisa dialihkan ke alat musik seperti drum atau gendang. Atau si anak senang mencorat-coret tembok, berikan kertas atau kanvas agar mereka menghasilkan karya di sana. Dengan melatih bakat anak sejak dini, maka kemampuan tersebut akan semakin tajam seiring pertumbuhan mereka. Tak jarang saat ini banyak anak-anak dengan kemampuan luar biasa padahal usianya masih SD bahkan balita.

5. Ajak ke Tempat Baru

Luangkan waktu khusus untuk mengajak anak pergi ke tempat baru, bisa kebun binatang, kolam renang, pantai, pegunungan, museum, dan sebagainya. Menurut Adam Galinsky, seorang professor dari Columbia Business School, hasil penelitiannya terkait jalan-jalan dan kreativitas membuktikan bahwa semakin banyak orang mengunjungi tempat asing, maka akan semakin kritis pola pikirnya.

Hal itu disebabkan kondisi yang tak biasa membuat seseorang harus bersikap fleksibel, adaptif, serta berpikir secara integratif. Mengingat anak usia dini sedang mengembangkan kemampuan dasar dirinya, maka tak ada salahnya diperkenalkan dengan berbagai situasi. Manfaatnya supaya mereka terbiasa dengan hal-hal baru dan kreativitasnya bertambah melalui referensi yang beragam.

Perlu diingat kembali bahwa kreativitas bukan lah kemampuan otak kiri semata. Kemampuan otak kanan anak pun perlu dilatih supaya kreativitasnya seimbang. Tak hanya penyelesaian soal akademik, namun berprestasi juga di bidang lainnya, seperti seni atau olahraga. Pengembangan kreativitas anak usia dini pun dibutuhkan sebagai usaha pertahanan dirinya dalam menghadapi persaingan di masa mendatang.